Membaca Pasar Fashion Korea Selatan: Peluang Brand Indonesia dari Seoul

Di tengah pengaruh K-fashion yang semakin luas, Korea Selatan menjadi salah satu pasar yang menarik untuk dipelajari oleh brand fashion Indonesia. Namun, memasuki pasar yang kompetitif membutuhkan lebih dari sekadar koleksi menarik. Desainer perlu memahami konsumen, menentukan posisi brand, dan membangun koneksi dengan pelaku industri yang tepat.

Pengalaman ini menjadi bagian dari perjalanan JF3 Fashion Festival melalui partisipasi LAKON Indonesia, Adrie Basuki, dan SOFIE dalam B-Fashion x M8 Showroom 2026, yang berlangsung pada 24–26 Oktober di About Project Lounge, Lotte World Tower, Seoul.

Kehadiran ketiga brand membuka kesempatan untuk memperkenalkan karakter desain Indonesia sekaligus melihat lebih dekat dinamika industri fashion Korea Selatan. Dari memahami tren hingga menjajaki peluang bisnis, apa saja yang perlu diperhatikan brand Indonesia sebelum memasuki pasar ini?

Memahami Konsumen Korea Selatan di Balik Tren K-Fashion


Foto: Buyer mengamati koleksi LAKON Indonesia di B-Fashion x M8 Showroom 2026, Lotte World Tower, Seoul.

Popularitas K-fashion tidak dapat dipisahkan dari pengaruh budaya populer Korea Selatan. K-pop, drama Korea, selebritas, dan media sosial turut membentuk visibilitas brand serta mempercepat penyebaran tren fashion ke berbagai negara.

Menurut laporan Korea Creative Content Agency (KOCCA) melalui platform WelCon, berjudul K-Fashion Goes Global: Decoding the Consumer, sebanyak 64,8% responden dalam survei internasional menyatakan bahwa konten Korea mempengaruhi keputusan mereka membeli produk dan layanan Korea. Laporan yang mengacu pada 2026 Overseas Hallyu Survey tersebut juga mencatat bahwa kategori fashion memiliki rata-rata pengeluaran bulanan tertinggi di antara kategori yang disurvei, yakni US$33,9.

Temuan ini memperlihatkan bagaimana kekuatan budaya populer dapat mendorong ketertarikan terhadap produk fashion. Namun, laporan tersebut juga menegaskan bahwa keputusan pembelian tetap dipengaruhi oleh desain, gaya, harga, dan kemudahan akses produk.

Meski data tersebut menggambarkan konsumen internasional terhadap produk Korea, bukan perilaku konsumen domestik Korea Selatan, terdapat pelajaran penting bagi brand Indonesia: popularitas dan identitas budaya dapat menarik perhatian, tetapi kualitas produk dan kesesuaiannya dengan kebutuhan konsumen tetap menentukan daya saing.

Bagi brand yang ingin memasuki Korea Selatan, pemahaman tersebut perlu dilengkapi riset pasar setempat, mulai dari preferensi gaya, perbedaan musim, daya beli, hingga kebiasaan berbelanja.

Sumber: KOCCA/WelCon - K-Fashion Goes Global: Decoding the Consumer.

Menentukan Positioning: Apa yang Membuat Brand Indonesia Berbeda?


Foto: Adrie Basuki bersama buyer dengan koleksi Jantung Nadi pada B-Fashion x M8 Showroom 2026, Lotte World Tower, Seoul.

Setelah memahami karakter konsumen, langkah berikutnya adalah menentukan posisi brand di pasar. Positioning bukan hanya tentang menentukan harga, tetapi juga menjelaskan nilai yang membedakan suatu produk dari pilihan lain yang tersedia. Identitas desain, kualitas pengerjaan, pemilihan material, dan pendekatan kreatif dapat menjadi bagian dari nilai tersebut.

Karya LAKON Indonesia, misalnya, menempatkan craftsmanship dan keterampilan perajin sebagai bagian penting dari identitas desainnya. Melalui koleksi HARSA, eksplorasi batik dan bordir tangan dipadukan dengan material kontemporer untuk membangun karakter busana. Sementara itu, Adrie Basuki melalui koleksi Jantung Nadi mengeksplorasi pendekatan circular fashion dengan memanfaatkan material tekstil yang tersisa. SOFIE menghadirkan interpretasi desain yang mempertemukan referensi tradisional dan pendekatan modern.

Ketiga pendekatan tersebut menunjukkan bahwa desainer dapat membangun karakter brand melalui jalur kreatif yang berbeda. Namun, karakter yang kuat perlu diterjemahkan menjadi pesan yang relevan bagi pasar. Brand perlu menjelaskan bukan hanya apa yang membuat koleksinya berbeda, tetapi juga nilai apa yang ditawarkan kepada konsumen dan mitra bisnis.

Pertimbangan harga juga menjadi bagian penting dari positioning. Laporan KOCCA/WelCon menggarisbawahi bahwa harga dapat menjadi hambatan pembelian, bahkan ketika konsumen telah mengenal dan tertarik pada K-fashion. Karena itu, brand perlu mengevaluasi kesesuaian harga dengan nilai produk, target konsumen, serta posisi yang ingin dibangun. Keputusan tersebut sebaiknya didukung riset dan masukan pasar, bukan semata-mata mengikuti harga kompetitor.

Dengan positioning yang jelas, brand memiliki dasar untuk menyampaikan identitasnya secara konsisten sekaligus mengevaluasi apakah koleksi yang ditawarkan relevan dengan kebutuhan pasar yang dituju.

Dari Showroom ke Buyer: Membuka Akses Industri Fashion Korea

Kesiapan produk dan positioning yang kuat perlu didukung akses kepada jaringan industri yang relevan.

Melalui B-Fashion x M8 Showroom 2026, LAKON Indonesia, Adrie Basuki, dan SOFIE mendapat kesempatan untuk memperkenalkan koleksi mereka dalam lingkungan yang mempertemukan brand dengan pelaku industri fashion internasional.

Berbeda dengan runway yang menekankan presentasi visual, showroom memungkinkan koleksi diamati lebih dekat. Detail material, kualitas pengerjaan, konstruksi, hingga informasi produk dapat menjadi bagian dari percakapan dengan calon mitra bisnis.

Interaksi semacam ini juga dapat memberikan masukan berharga. Pertanyaan mengenai harga, ukuran, kapasitas produksi, atau karakter koleksi membantu brand memahami aspek yang perlu dipersiapkan untuk pengembangan pasar.

Namun, kehadiran dalam showroom tidak otomatis menghasilkan transaksi atau kerja sama distribusi. Ketertarikan awal tetap perlu ditindaklanjuti melalui komunikasi bisnis, evaluasi produk, dan kesiapan memenuhi kebutuhan buyer.

Bagi brand Indonesia, nilai sebuah showroom tidak hanya terletak pada eksposur, tetapi juga pada kesempatan membangun relasi dan memahami ekspektasi pasar secara langsung.

Membangun Peluang Bisnis yang Berkelanjutan


Foto: Buyer berdiskusi mengenai koleksi yang ditampilkan di B-Fashion x M8 Showroom 2026, Lotte World Tower, Seoul, Korea Selatan.

Memahami pasar fashion Korea Selatan bukanlah proses yang selesai dalam satu kunjungan. Kehadiran di pasar internasional dapat membuka akses dan memperluas koneksi, tetapi pengembangan peluang bisnis membutuhkan strategi, evaluasi, serta tindak lanjut yang berkelanjutan.

Soegianto Nagaria, Chairman JF3, menjelaskan, “Industri fashion yang kuat membutuhkan proses dan dukungan yang konsisten berkelanjutan. JF3 berupaya menghubungkan kreativitas desainer dengan peluang bisnis dan akses pasar yang lebih luas.”

Pernyataan tersebut mencerminkan komitmen JF3 untuk mengembangkan ekosistem fashion yang tidak hanya berfokus pada presentasi karya, tetapi juga membuka akses terhadap peluang industri.

Partisipasi di B-Fashion x M8 Showroom di Seoul dan Busan Fashion Week menjadi dua pendekatan yang saling melengkapi. Runway memperkenalkan visi kreatif kepada audiens fashion, sementara showroom membuka ruang interaksi yang lebih dekat dengan kebutuhan bisnis.

Melalui kedua platform tersebut, JF3 memperluas kesempatan bagi desainer Indonesia untuk membangun jejaring, memahami dinamika pasar internasional, dan menjajaki peluang kerja sama yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

Pada akhirnya, memasuki pasar global bukan tentang mengikuti setiap tren, melainkan memahami di mana kekuatan sebuah brand dapat menemukan pasar yang tepat. Dengan identitas desain yang jelas dan strategi bisnis yang matang, kreativitas Indonesia memiliki peluang untuk berkembang melampaui batas geografis.


Baca juga babak baru JF3 di fashion asia: https://jf3.co.id/articles/jf3-x-korea-kolaborasi-strategis-yang-membuka-babak-baru-fashion-asia-