BRI JF3 Fashion Festival 2026: Ketika Fashion Indonesia Bertemu Dunia
Bagaimana jika tenun dan songket Lombok bertemu dengan tailoring Barat, atau batik Mojokerto berdialog dengan referensi French maritime workwear? Di BRI JF3 Fashion Festival 2026, pertemuan semacam ini tidak berhenti sebagai eksperimen visual di runway. Ia menjadi bagian dari pertukaran pengetahuan, craftsmanship, dan perspektif yang mempertemukan fashion Indonesia dengan ekosistem internasional.
Sejak diinisiasi oleh Summarecon pada 2004, JF3 terus berkembang dari sebuah perhelatan fashion menjadi platform yang menghubungkan desainer, brand, retail, media, komunitas kreatif, dan jejaring global. Melalui tema “Recrafted: Shaping the Future,” JF3 2026 membawa kolaborasi internasional lebih jauh: bukan sekadar menghadirkan desainer dari berbagai negara, tetapi menciptakan ruang bagi mereka untuk bekerja bersama, bertukar pengetahuan, dan menemukan kemungkinan baru melalui identitas masing-masing.
Ketika Streetwear Prancis Bertemu Perspektif Indonesia
Foto: Koleksi FAS DELMAN hasil kerja sama TAREET dan DENIMITUP di BRI JF3 Fashion Festival 2026
Salah satu pertemuan menarik datang dari TAREET, brand Prancis yang didirikan Etienne, bersama DENIMITUP, peserta program Accelerator PINTU Incubator. Keduanya menghadirkan FAS DELMAN, koleksi yang mempertemukan perspektif Indonesia dan Senegal melalui bahasa streetwear kontemporer.
TAREET sebelumnya dikenal melalui karya yang dikenakan sejumlah figur musik internasional, termasuk Playboi Carti dan ENHYPEN, serta keterlibatannya dalam pengembangan jersey Olympique de Marseille bersama PUMA. Namun di JF3, relevansinya bukan semata terletak pada rekam jejak tersebut. Pertemuan dengan DENIMITUP memperlihatkan bagaimana desainer dari latar budaya berbeda dapat membangun karya melalui pertukaran ide yang lebih setara.
Kolaborasi seperti ini menjadi penting ketika fashion Indonesia ingin memperluas relevansinya. Akses global bukan hanya tentang membawa sebuah brand tampil di luar negeri, tetapi juga membangun kemampuan untuk bekerja, berkomunikasi, dan menciptakan sesuatu bersama dalam konteks internasional.
PINTU Residency: Empat Bulan Dialog Indonesia-Prancis
PINTU Residency 2026 membawa pendekatan tersebut lebih jauh. Memasuki edisi kedua, program ini mempertemukan desainer Indonesia dan Prancis dalam proses residensi selama empat bulan, dengan pendampingan dari Thresia Mareta, Advisor JF3 dan Co-Initiator PINTU; Pascaline Wilhelm, School Director ENAMOMA; serta Carol Meyer, Cultural Attaché IFI.
Alih-alih memulai kolaborasi dari studio, para desainer masuk langsung ke daerah tempat craftsmanship tersebut hidup.
Foto: Koleksi GARUDA karya Beatrice Angelica dan Mickaël Nana memadukan tenun dan songket Lombok di JF3 2026
Di Lombok Nusa Tenggara Barat, desainer Indonesia Beatrice Angelica dan desainer Prancis Mickaël Nana mengembangkan GARUDA. Koleksi ini membawa tenun dan songket Lombok ke dalam dialog dengan pendekatan desain Barat, menghasilkan 10 looks ready-to-wear yang dibangun melalui dua perspektif kreatif berbeda.
Foto: Koleksi AU LARGE karya Gabriel Marcella dan Lisa Rayar mengeksplorasi batik Mojokerto di JF3 Fashion Festival 2026
Sementara di Mojokerto Jawa Timur, Gabriel Marcella dan Lisa Rayar menciptakan AU LARGE, koleksi 12 looks yang mempertemukan hubungan terhadap laut dalam tradisi maritim Prancis dan budaya pesisir Jawa. Batik Mojokerto dipadukan dengan referensi French maritime workwear, termasuk pengembangan motif batik khusus untuk proyek tersebut.
Bagi Thresia Mareta, kekayaan craftsmanship Indonesia membutuhkan sistem yang mampu menghubungkannya dengan perkembangan industri.
“Indonesia memiliki kekayaan craftsmanship, material, pengetahuan, dan identitas budaya yang sangat besar. Namun semua itu tidak cukup jika hanya berhenti sebagai potensi. Ia perlu diolah, diarahkan, dan dihubungkan dengan sistem yang tepat. Di JF3 Fashion Festival, kami ingin membuka ruang agar desainer tidak hanya tampil, tetapi juga berkembang, bertukar, dan menemukan peluang untuk melangkah lebih jauh.”
PINTU Residency menunjukkan bahwa kolaborasi fashion Indonesia–Prancis dapat bergerak melampaui pertukaran estetika. Ketika desainer bekerja langsung dengan artisan, material, dan konteks budaya tempat sebuah craft berasal, kolaborasi menjadi proses belajar dua arah.
Dari Prancis hingga Korea Selatan
Foto: Koleksi HARSA dari LAKON Indonesia bersama euneun di BRI JF3 Fashion Festival 2026
Jejaring internasional JF3 2026 juga berkembang ke Asia Timur melalui kerja sama LAKON Indonesia dan euneun, brand tas asal Korea Selatan. Dalam presentasi HARSA, LAKON menghadirkan 36 looks yang mengolah batik dan bordir tangan Indonesia melalui eksplorasi proporsi serta material seperti katun poplin, satin duchess, dan organza. Tas euneun hadir sebagai elemen pelengkap dalam keseluruhan presentasi.
Pendiri euneun, Hahm Eun-jung, yang juga dikenal sebagai aktris dan anggota grup K-pop T-ara, turut hadir di Jakarta menyaksikan presentasi tersebut. Pertemuan ini menjadi bagian dari hubungan JF3 dengan ekosistem fashion Korea Selatan yang semakin berkembang, termasuk melalui pertukaran dengan desainer Korea dan kerja sama JF3 dengan Busan Fashion Week pada bulan Oktober 2026 nanti..
Dalam konteks yang lebih luas, kehadiran desainer dari Prancis, Korea Selatan, dan negara-negara ASEAN sepanjang JF3 2026 memperlihatkan bagaimana Jakarta dapat menjadi titik temu bagi percakapan fashion lintas negara, dengan Indonesia bukan sekadar menjadi lokasi penyelenggaraan, tetapi turut membawa craftsmanship, desainer, dan perspektifnya sendiri ke dalam dialog tersebut.
Dari Panggung Runway ke Ekosistem Bisnis
Foto: Fashion Village JF3 2026 di Summarecon Mall Kelapa Gading menghadirkan brand dan desainer fashion Indonesia
Pertukaran internasional menjadi lebih relevan ketika terhubung dengan ekosistem bisnis. Berada di lingkungan Summarecon memberi JF3 akses langsung terhadap ruang retail dan konsumen melalui platform seperti Fashion Village, sehingga perjalanan sebuah brand tidak harus berhenti setelah koleksi dipresentasikan di runway.
Chairman JF3 Fashion Festival, Soegianto Nagaria, melihat hubungan antara kreativitas dan pasar sebagai bagian penting dalam membangun industri yang berkelanjutan.
“Melalui JF3 Fashion Festival, kami menghubungkan proses kreatif dengan akses pasar yang nyata, dari runway langsung ke konsumen. Industri fashion yang kuat tidak tumbuh dari satu event, tetapi dari ekosistem yang dibangun secara konsisten. Kami percaya bahwa kreativitas yang didukung oleh infrastruktur yang tepat akan menghasilkan dampak ekonomi yang jauh lebih besar.”
Pada akhirnya, nilai sebuah kolaborasi internasional bukan diukur dari berapa banyak negara yang hadir di runway. Dampaknya terletak pada apa yang tersisa setelah pertunjukan berakhir: pengetahuan baru, jejaring, akses pasar, kemampuan bekerja lintas budaya, dan peluang bagi desainer untuk membawa bisnisnya ke tahap berikutnya.
Melalui BRI JF3 Fashion Festival 2026, “Recrafted: Shaping the Future” menemukan bentuk konkretnya. Fashion Indonesia tidak hanya diperkenalkan kepada dunia, tetapi ditempatkan dalam percakapan dengan dunia, membawa identitasnya sendiri, sekaligus terbuka terhadap perspektif baru.
Baca juga: Les Échos: Craft Across Cultures - Ragam Kolaborasi Lintas Budaya Warnai BRI JF3 Fashion Festival 2026